Home / Olahraga

Thursday, 3 September 2020 - 10:21 WIB

Menerawang Nasib Industri Sepak Bola Usai Corona

ilustrasi. (ist)

ilustrasi. (ist)

INTREN.ID, NEUCHATEL – Dunia dibuat porak-poranda oleh pandemi Covid-19. Semua sektor dibuat luluh lantak. Termasuk industri sepak bola. Lalu, bagaimana nasib industri sepak bola Eropa yang kesohor memiliki finansial kuat.

International Centre for Sports Studies yang berbasis di Neuchatel, Swiss baru-baru ini membuat studi. Mereka membuat observasi sepak bola di lima liga top Eropa, Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Prancis.

Mereka memprediksi industri itu terkena dampak virus beralias corona dengan penurunan sekitar 28 persen. Artinya, dari total 32 miliar euro (Rp 58 triliun), nilai pasar pemain akan turun ke angka total 23 miliar euro (Rp 41,7 triliun).

Estimasi itu diperoleh asalkan tidak ada lagi pertandingan di sisa musim dan tidak ada perpanjangan kontrak pemain yang berakhir di bulan Juni.

“Tingkat penurunan bervariasi sesuai beberapa faktor seperti usia pemain, durasi kontrak, jalur karier, dan kinerja baru-baru ini,” bunyi pernyataan studi tersebut.

Dengan kalkulasi ini, artinya bintang seperti Paul Pogba bakal menyusut nilainya hingga akhirnya menyentuh angka 35 juta euro.

International Centre for Sports Studies juga memaparkan penyusutan nilai pasar klub Manchester City yang menyentuh angka 412 juta euro melebihi penyusutan nilai pemain klub mana pun di lima liga top Eropa.

Di belakang City ada raksasa La Liga, Barcelona yang bakal mengalami penyusutan nilai pemain sebesar 366 juta euro. Di Premier League, Liverpool menjadi tim dengan penyusutan nilai pasar terbesar, yakni 353 juta euro.

Sebelum dihantam Covid-19, industri sepak bola berkembang pesat. Uang menjadi segalanya di industri ini. Hanya saja, hal itu menyisakan sejumlah persoalan, salah satunya adalah keitmpangan antara klub besar dan kecil.

Baca Juga:  Dorong Masyarakat untuk Tetap Aktif #DIRUMAHBANGET Melalui Kelas Digital

Dengan kekuatan finansial besar, klub-klub kaya diprediksi semakin kuat. Sementara klub gurem dibuat tak berdaya. Terjadi persaingan tak seimbang di liga-liga seperti Prancis, Italia, dan Inggris.

Adanya aturan Financial Fair Play dari UEFA juga tak bisa menghindari borosnya klub besar dalam belanja pemain. Hal ini diperparah dengan permainan para agen yang menaikan harga pemain seenaknya.

Sehat Usai Krisis Corona?

Sekjen FIFpro (Serikat Pemain Eropa), Jonas Baer-Hoffman mengatakan, corona bisa mengubah citra industri sepak bola yang berdampak pada perekonomian. Tak hanya gaji pemain yang dipangkas. Staf dan pegawai pun kena pangkas, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Sedangkan klub gurem di ambang bangkrut.

Namun, ada hal positif dari kondisi ini. Untuk jangka waktu lama, diperkirakan tak ada lagi megatransfer yang menyentuh angka triliunan rupiah. Diprediksi, klub memilih menghemat pengeluaran. Tak ayal, agen pemain bakal banting harga.

Pendapat lain dikemukakan pelatih Everton, Carlo Ancelotti. Pelatih berjuluk Don Carleto itu berujar, dampak positif akan datang usai kesulitan ekonomi. Pelatih asal Italia itu menilai, sepak bola akan lebih “merakyat”, tak lagi jadi ladang bisnis yang hanya sekadar mengeruk uang.

“Ekonomi akan segera berubah di semua tingkatan. Harga tiket akan turun dan hak (siar) TV akan lebih murah. Pesepak bola dan pelatih akan mendapat gaji lebih sedikit. Akan ada perampingan keuangan secara umum. Ini akan menjadi sepak bola yang lebih benar. Mungkin semuanya akan lebih baik,” ujarnya dikutip dari Liverpool Echo.

Barangkali, pendapat Ancelotti ada benarnya juga. Selama ini kesenjangan besar makin terlihat di sepak bola. Klub kaya akan terus semakin kuat yang membuat persaingan di liga terasa hambar. Kini, klub mulai pikir-pikir membeli pemain dengan harga supermahal karena tak ingin memperparah kerugian.

Baca Juga:  Pasien Terpapar Covid-19 Bertambah 479 Orang, Balikpapan Menjadi Penyumbang Terbanyak

Strategi transfer akan menjadi primadona ketimbang membelanjakan duit jor-joran. Agen pemain tak bisa lagi seenaknya menaikkan harga.

Jika teori ini benar, klub menengah pun bakal punya kesempatan mendapatkan jasa pemain bagus dengan harga merakyat. Dengan demikian, keseimbangan di industri sepak bola akan terjadi. (***)

Reporter: Aulia Maulana Jaya

Editor: Guntur Marchista Sunan

Share :

Baca Juga

Olahraga

Pernyataannya Dianggap Menghina Umat Islam, Khabib Nurmagomedov “Injak” Wajah Presiden Prancis

Olahraga

Dorong Masyarakat untuk Tetap Aktif #DIRUMAHBANGET Melalui Kelas Digital

Olahraga

MotoGP 2020 Bakal Lebih Sulit Seandainya Marc Marquez Ikut Balapan Lagi

Olahraga

Inter Diperkirakan Segera Jual Eriksen, Gelandang Liverpool Diincar Barcelona

Olahraga

Cristiano Ronaldo Terpapar Covid-19, Bagaimana Kondisi Pemain Portugal Lainnya?

Olahraga

Daripada Menjadi Penggemar Olahraga, Jadilah Peserta Olahraga

Olahraga

PSSI Tetapkan Enam Stadion untuk Penyelenggaraan Piala Dunia U-20

Olahraga

Real Madrid Masih Lapar Gelar, Bidik Semua Trofi Musim Depan