Home / Infrastruktur

Tuesday, 15 September 2020 - 08:00 WIB

Dirancang Sejak 2007, Progres Pengerjaan Pulau Balang Sudah 89 Persen

Jembatan Pulau Balang menjadi pengubung Balikpapan dengan PPU. (ist)

Jembatan Pulau Balang menjadi pengubung Balikpapan dengan PPU. (ist)

WAYOUT.ID, PENAJAM – Dirancang sejak 2007 silam, pembangunan Jembatan Pulau Balang terus berproses hingga saat ini.

13 tahun proses pembangunan, jembatan yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) itu telah memasuki progres pengerjaan 89 persen.

Hal tersebut disampaikan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kaltim, Dadang Irwan dalam rilis resminya.

“Per 30 Agustus 2020, pembangunan mencapai 89,5 persen. Target 100 persen pada Februari 2021 rampung,” kata Dadang.

Diketahui, pemasangan dua pylon (tiang) utama jembatan sudah selesai 100 persen.

Dua side closure (penutup samping), approach span (rentang pendekat), dan oprit jembatan juga sudah 100 persen.

“Main deck P1 launching segmen 17 masih 76,19 persen dan main deck P2 stressing segmen 16 sekitar 71,43 persen. Jika dua dek ini selesai, maka Jembatan Pulau Balang otomatis akan tersambung,” sambungnya.

Sementara itu, yang masih menjadi pekerjaan rumah pembangunan Jembatan Pulau Balang adalah akses jalan pendekat jembatan tersebut.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kaltim, Irhamsyah menyebut, saat ini dilakukan revisi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dan penentuan lokasi jalan pendekat ke Jembatan Pulau Balang.

Hal ini lantaran rencana awal pembangunan jembatan bakal melewati hutan mangrove di sisi Kota Balikpapan.

Untuk itu dilakukan proses penentuan lokasi baru pembangunan jalan pendekat.

“Kami sedang proses revisi amdal dan penentuan lokasi, diupayakan selesai Oktober ini rampung,” ungkap Irhamsyah, dikonfirmasi Senin (14/9/2020).

Meski begitu Irhamsyah, meyakini penyelesaian pembangunan Jembatan Pulau Balang dapat rampung sesuai target.

“Semoga ya (Februari 2021) rampung,” tutupnya.

Sumber dana pembangunan jembatan dari SBSN (APBN) tahun 2015-2021 pagu anggaran Rp 1,391 triliun dan nilai kontrak addendum-10 sebesar Rp 1,386 triliun.

Baca Juga:  Pemekaran Daerah Masih Memungkinkan Kendati Tak Mudah, Wagub Kaltim Sebut Pemerintah Memberi Ruang  

Panjang jembatan 804 meter dengan lebar 22,4 meter (4 lajur). Tinggi pylon 117,5 meter dan jenis bangunan atas berupa cable stayed (kabel tetap). Sementara clearance dari permukaan air laut jembatan ini mencapai 28,4 meter.

Jarak dan Waktu Tempuh Bakal Lebih Singkat

Kehadiran Jembatan Pulau Balang akan memperlancar konektivitas antara Samarinda, Balikpapan dengan ibu kota baru di PPU.

Saat ini, kendaraan dari Balikpapan menuju Penajam yang menjadi lokasi ibu kota baru dan selanjutnya ke Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan dan kota lainnya, harus memutar dengan jarak sekitar 100 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam.

Dengan adanya jembatan tersebut, nantinya jarak akan menjadi lebih pendek menjadi hanya sekitar 30 km dan perjalanan dapat disingkat hanya dalam waktu satu jam.

Selain sebagai penghubung jaringan jalan poros selatan Kalimantan, jembatan ini juga mendukung rencana pengembangan pelabuhan peti kemas Kariangau dan kawasan industri Kariangau. (***)

Reporter: Satria Dirgantara

Editor: Guntur Marchista Sunan

Share :

Baca Juga

Infrastruktur

Pembongkaran Bangunan di Sungai Karang Mumus Segmen Pasar Segiri Ditarget Kelar Desember

Infrastruktur

Berupaya Jaga Kualitas Pendidikan, Pemkab PPU Gunakan Kurikulum Darurat

Infrastruktur

Gubernur Kaltim Resmi Lantik Sekprov, Anggota Dewan Soroti Target Pendapatan

Infrastruktur

24.149 KK Belum Teraliri Listrik, Elektrifikasi Kutim Terendah Kedua di Kaltim

Infrastruktur

Ruas Jalan Samarinda-Muara Kaman Bakal Jadi Fokus Perbaikan Pemprov Kaltim di Tahun 2021

Infrastruktur

Fokus Perkuat Sektor Pertanian, Pemkab Kukar Dorong Ketahanan Pangan  

Infrastruktur

Proyek Pemindahan Ibu Kota Ditunda, Pembangunan Infrastruktur di Kota Penunjang Diteruskan

Infrastruktur

Pemprov Kaltim Klaim Kemendagri Izinkan Dua Proyek MYC Masuk APBD 2021, Begini Tanggapan Akademisi