Home / News

Friday, 23 October 2020 - 06:00 WIB

Ujian Nasional Bakal Ditiadakan Mulai Tahun Depan, Begini Respon Disdik Kota Samarinda

ilustrasi. (ist)

ilustrasi. (ist)

WAYOUT.ID, SAMARINDA – Mulai tahun depan ujian nasional ditiadakan dan akan diganti dengan penilaian asesmen kompetensi minimum atau AKM.

Kebijakan ini merupakan terobosan dari  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, yakni tak lagi memberlakukan ujian nasional. Saat ini Dinas Pendidikan (Disdik) di daerah masih lakukan penyesuaian. Termasuk Samarinda.

“Jadi yang masuk penilaian akhir bukan mata pelajaran lagi,” ujar Kabid Pembangunan SMP Disdik Samarinda, Barlin Hadi Kesuma saat dikonfirmasi pada Kamis (22/10/2020).

Barlin menerangkan, terkait evaluasi final jelang tamat belajar. Dalam AKM nanti bakal ada tiga penilaian.

Pertama itu numerasi, kemampuan siswa menganalisis menggunakan angka. Lalu ada literasi. Penilaian kompetensi tersebut tak hanya soal kapabilitas pelajar membaca, namun juga menganalisis suatu bacaan dan memahami konsep di balik tulisan tersebut.

Dengan demikian tak lagi berdasarkan mata pelajaran dan penguasaan materi, tetapi kompetensi minimum atau kompetensi dasar yang dibutuhkan siswa untuk bisa belajar. Ada pula survei karakter. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui data secara nasional. Sistem sudah bekerja baik atau tidak.

Survei karakter bakal jadi acuan bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan sekolah buat siswa lebih bahagia. Dengan demikian, sistem ini jadi cermin bukan beban lantaran hasilkan autokritik.

“Jadi ketika murid mendapatkan nilai yang buruk di sekolah, tak langsung menghakimi. Bisa jadi sekolah ikut bertanggung jawab karena tak bisa hadirkan suasana nyaman. Baik dari sisi pengajar atau fasilitas penunjang tak layak,” jelasnya.

Dia menerangkan, perubahan sistem dari ujian nasional menjadi AKM bukan tanpa sebab. Sebelum menuju beleid tersebut pemerintah telah melaksanakan sejumlah survei dan musyawarah bersama guru, siswa, dan orang tua. Lantaran tiga hal inilah yang selama ini bertalian erat dengan ujian nasional.

Baca Juga:  BSPN Kaltim Ungkap Dugaan Kecurangan di Pilkada Kutai Timur, Terungkap saat Pleno Kecamatan

Dalam pelaksanaannya, tuntutan ujian nasional tentu harus bisa melewati ambang batas nilai yang ditentukan. Jika tidak, maka dianggap tak lulus. Itu artinya terancam tak bisa lanjutkan pendidikan. Bebannya terlalu berat. Hanya dalam tiga hari masa depan ditentukan, padahal belajarnya tiga tahun.

Kondisi inilah yang membuat stres siswa, guru maupun orang tua karena ujian nasional justru menjadi indikator keberhasilan belajar siswa sebagai individu.

“Bahkan gara-gara ini pula tak jarang ada kasus bunuh diri. Inilah yang kami tak inginkan terjadi,” tegasnya. (***)

Reporter: Satria Mega Dirgantara

Editor: Prananda Dwi Indra Purnama

Share :

Baca Juga

News

Ada Surat Permohonan dari Gubernur ke Ketua DPRD Kaltim, Akademisi: Seolah Tanpa Aturan

News

Karena Tidak Masuk Daerah Prioritas, Kaltim Baru Kebagian Jatah Vaksin Covid-19 Tahun Depan

News

Jelang Ramadan Ramai Kegiatan Ziarah Kubur, Safaruddin: Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

News

Positif Covid-19 di Kaltim Hampir Tembus 15 Ribu Kasus, Masyarakat Diimbau Patuhi Protokol Kesehatan

News

Sampaikan Rasa Belasungkawa, Safaruddin Silaturahmi ke Kediaman Mendiang Thohari Aziz

News

Kantor Golkar Kaltim dan Golkar Samarinda Disebut Aset Pemkot, Jaksa Tunggu Wali Kota Teken Notakesepahaman

News

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Kaltim di Atas 90 Persen, Safaruddin: Jangan Lengah!

News

Berjuang Selama 12 Hari untuk Sembuh dari Covid-19, Bupati Berau Tutup Usia