Home / Politik

Wednesday, 25 November 2020 - 06:00 WIB

Warga Desa Mekar Baru Sambut Kedatangan Mahyunadi, Satu Suara untuk Kutim Makin Maju

Calon Bupati Kutim, H Mahyunadi SE MSi menyapa warga Desa Mekar Baru, Kecamatan Busang. (ist)

Calon Bupati Kutim, H Mahyunadi SE MSi menyapa warga Desa Mekar Baru, Kecamatan Busang. (ist)

WAYOUT.ID, SANGATTA – Antusiasme masyarakat menyambut calon Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), H Mahyunadi SE MSi dan H Lulu Kinsu begitu tinggi. Semangat perubahan disuarakan untuk menjadikan Kutim semakin maju, mandiri, dan sejahtera.

Selasa (24/11/2020), Mahyunadi menggelar silaturahmi dengan warga Desa Mekar Baru, Kecamatan Busang. Selain didampingi istri tercinta, Hj Masriati, ketua DPRD Kutim 2014-2019 itu juga didampingi anggota DPRD Kutim dari Fraksi Gerindra Prayunita Utami serta anggota DPRD Kutim dari Partai Gerindra, Yan. Hadir pula Kepala Desa Mekar Baru Limjalung, serta tokoh adat dari Desa Long Nyelong, Amay Petaja.

Sekira pukul 10.00 Wita menggelar pertemuan dengan warga di balai desa, Mahyunadi mendapat banyak keluhan dari warga setempat. Mulai dari persoalan infrastruktur, pendidikan, hingga kesejahteraan. Itulah mengapa, warga setempat begitu antusias menyuarakan perubahan bersama Mahyunadi-Kinsu.

Warga setempat, Jalung Apoy menyuarakan perubahan. Berbagai persoalan yang belum juga dituntaskan hingga kini di antaranya infrastruktur jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, kesejahteraan tenaga kerja kontrak daerah (TK2D), status lahan desa yang masih Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK), serta beasiswa bagi anak berprestasi dan tidak mampu.

“Selain itu, persoalan yang kami hadapi adalah tenaga guru, ketiadaan SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), tenaga medis, penurapan sungai, diperhatikannya rumah-rumah ibadah, serta jika perlu para pemangku adat mendapat tunjangan. Kami yakin bahwa Mahyunadi-Kinsu dapat merealisasikan itu semua. Karena butuh perubahan di Kutim ini,” tegasnya.

Warga lainnya, Uncang Cow menyampaikan, perlunya ada mesin pemadam di daerah itu. Karena jika terjadi kebakaran, butuh waktu lama bagi kendaraan pemadam untuk tiba. “Kami juga mengusulkan mesin pemadam dengan perlengkapannya untuk Desa Mekar Baru,” harapnya.

Safarius Luting, warga lainnya mempertanyakan soal Program Keluarga Harapan (PKH) yang tidak pernah sampai. “Masalah PKH ini harus ada perubahan. Karena warga tidak dapat,” keluhnya.

Baca Juga:  LO Pasangan Calon 3 Tak Hadiri Rakor Jelang Pleno Rekapitulasi Suara, KPU Imbau Tak Bawa Massa

Menanggapi aspirasi dari warga, Mahyunadi memastikan bahwa program-program yang ditawarkannya sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Sehingga, dibutuhkan perubahan dalam membangun Kutim. Mahyunadi-Kinsu pun menitikberatkan pada lima sektor, yakni infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia (SDM) unggul, sosial kemasyarakatan, dan tata kelola pemerintahan.

“Di bidang infrastruktur, Mahyunadi-Kinsu berkomitmen mewujudkan pembangunan infrastruktur yang merata dan proporsional. Penambahan ruas dan peningkatan kualitas jalan, penyelesaian pelabuhan laut Sangatta dan pembangunan bandara, serta elektrifikasi listrik dan sambungan instalasi di semua desa menjadi program utama kami,” tegas Mahyunadi.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur sangat mendesak harus dilakukan demi mewujudkan konektivitas antardaerah, antarkecamatan, dan antardesa di Kutim. Saat ini, jalanan di Kutim yang kondisinya rusak mencapai 980,33 kilometer. Rinciannya rusak sedang 442,95 kilometer, rusak ringan 171,49 kilometer, dan rusak berat sepanjang 365,89 kilometer.

Di sektor ekonomi, Mahyunadi-Kinsu berkomitmen menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dengan mengembangkan usaha mikro kecil menengah (UMKM), koperasi, agribisnis dan agroindustri. Hal itu diimplementasikan dengan program kemudahan kredit modal usaha UMKM, dan pengembangan koperasi, bantuan sarana produksi (saprodi) dan peningkatan nilai tambah pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan, penyerapan tenaga kerja lokal di semua industri, pengembangan pariwisata dan budaya lokal, serta mengembangkan program desa mandiri dan sejahtera.

“Angka kemiskinan Kutim naik. Dari 33.024 orang pada 2018, menjadi 35.310 orang pada tahun 2019. Padahal Kutim adalah kabupaten kaya. Sayang, punya potensi besar tapi tidak dimaksimalkan. Untuk itulah dibutuhkan perubahan di semua sektor untuk memulihkan ekonomi. Pelaku UMKM, pertanian, koperasi, perkebunan, perikanan, dan penyerapan tenaga kerja lokal harus dibenahi. Harus ada perubahan,” tegas Mahyunadi.

Di bidang SDM unggul, Mahyunadi-Kinsu memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas SDM yang cerdas, sehat, berbudi pekerti luhur, dan berdaya saing. Alokasi pendidikan 20 persen untuk bantuan perlengkapan siswa, pemberian beasiswa, pendidikan nonformal, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru serta pendirian dan pengembangan balai latihan kerja akan direalisasikan.

Baca Juga:  Lima Wartawan Jadi Korban Kebrutalan Polisi, Ini Jawaban Kapolresta Samarinda

Selanjutnya, Mahyunadi-Kinsu akan memastikan pembangunan rumah sakit pratama, pembangunan rumah dokter, peningkatan kualitas sarana, prasarana dan pelayanan kesehatan, bantuan pengobatan bagi masyarakat kurang mampu serta bantuan pemenuhan gizi ibu hamil dan balita. Begitu juga peningkatan dan pemerataan kualitas pemuka agama dan rumah ibadah.

“Untuk melahirkan SDM unggul, kami berpedoman pada tiga pilar. Yaitu pendidikan, kesehatan, dan keagamaan. Sehingga Kutim punya SDM yang cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur. Kebutuhan sekolah anak-anak wajib dipenuhi lewat anggaran pendidikan 20 persen, pembangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus merata, dan para pemuka agama harus mendapat insentif sebagai bentuk penghargaan, serta sekolah dan tempat ibadah harus dibenahi agar layak,” tutur Mahyunadi.

Di bidang sosial kemasyarakatan, Mahyunadi-Kinsu akan memastikan terwujudnya tata kelola lingkungan yang baik serta tatanan kehidupan sosial yang harmonis. Hal itu diimplementasikan dengan program alokasi anggaran 50-100 juta per RT/tahun untuk kegiatan sosial, sarana olahraga dan seni, kegiatan keagamaan dan kegiatan penataan lingkungan di tiap RT.

“Anggaran Rp 50-100 juta per RT per tahun menjadi program kami. Semua usulan melibatkan masyarakat. Lewat rembuk. Kami ingin dalam membangun Kutim, semua terlibat. Dari tingkat RT, desa, kecamatan, sampai pemerintah daerah terlibat langsung. Makanya butuh perubahan. Kita semua harus mengubah pola pikir, bahwa pembangunan tidak hanya dikerjakan oleh pemerintah daerah saja. Tapi melibatkan seluruh elemen,” jelas Mahyunadi.

Selain itu juga penataan peruntukan lahan per kecamatan, pembinaan lembaga adat, organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), olahraga, seni dan budaya, serta menumbuhkembangkan budaya gotong-royong dalam masyarakat.

Di bidang pemerintahan, Mahyunadi-Kinsu akan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik dan berbasis elektronik. Penerapan e-goverment dan e-budgeting dalam penyelenggaraan pemerintahan, peningkatan kualitas, kapasitas, dan kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN), peningkatan kesejahteraan tenaga honorer melalui pengupahan upah minimum kabupaten (UMK), serta mendorong percepatan penyelesaian pembangunan proyek strategis nasional di Kawasan Industri Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK).

Baca Juga:  Pilkada Kukar: Banteng Komitmen Dukung Edi Damansyah-Rendi Solihin

“Dalam mengelola pemerintahan, kami pastikan tidak ada utang budi atau politikk balas budi. Saya dan H Kinsu maju pilkada (pemilihan kepala daerah) tanpa sponsor. Kami mau fokus mengabdi untuk Kutim. Dengan demikian, kami bisa membentuk pemerintahan yang baik. Untuk mencegah korupsi, kami siapkan e-budgeting. Masyarakat juga bisa mengakses penggunaan anggaran. Dalam hal pelayanan publik, kita akan siapkan e-government agar saat mengurus KTP, kartu keluarga, sampai perizinan tidak perlu repot. Dan yang pasti, kesejahteraan ASN dan honorer juga harus ditingkatkan. Biar semangat kerja, tidak korupsi,” tegas Mahyunadi lagi.

Membangun Kutim ke depan tidaklah mudah. Di tengah meningkatnya angka kemiskinan, banyaknya infrastruktur jalan yang rusak, kualitas pendidikan yang harus ditingkatkan, fasilitas kesehatan yang belum merata, hingga kesejahteraan masyarakat harus diselesaikan. Jika salah memilih pemimpin pada 9 Desember mendatang, harapan untuk menikmati program-program tersebut di atas akan sirna.

Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin yang memiliki kualitas, pengalaman, dan paham dengan kondisi masyarakat. Kehadiran masyarakat dalam rangka membawa Kutim untuk perubahan sangat dibutuhkan. Syaratnya adalah, pada tanggal 9 Desember mendatang, coblos nomor satu, Mahyunadi-Kinsu. (***)

Reporter: Bima Putra Perkasa

Editor: Prananda Dwi Indra Purnama

Share :

Baca Juga

Politik

Usung Sembilan Pasangan Calon, Ini Pesan Ketua PDI Perjuangan Kaltim

Politik

Catat, Ini Sanksi Pasangan Calon yang Langgar Protokol Kesehatan saat Kampanye

Politik

Dugaan Black Campaign Serang Mahyunadi, Kesbangpol Kaltim: LSM Kompak Belum Terdaftar

Politik

Adi Darma Wafat, Jadi Calon Kepala Daerah Kedua yang Mangkat Karena Covid-19

Politik

Besok Pendaftaran Calon Kepala Daerah, Khusus Penantang Calon Tunggal

Politik

Demo di Depan KPU Kutai Timur Ricuh, Rekaman Diduga Petahana Intervensi Anak Buah Diputar

Politik

KPU Larang Calon Kepala Daerah Iklan di Media Sosial, Hanya Boleh Beriklan di Media Massa

Politik

Tinggalkan AFH-Uce di Pilkada Kutim, Hanura Mantapkan Diri ke Mahyunadi-Kinsu