Home / News

Friday, 4 December 2020 - 06:00 WIB

Belajar tatak Muka Dimulai Tahun Depan, Kaltim Masih Menunggu Petunjuk Teknis dari Pusat

Salah seorang siswa mengikuti sekolah daring. (ist)

Salah seorang siswa mengikuti sekolah daring. (ist)

WAYOUT.ID, SAMARINDA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim menyampaikan, mulai Januari 2021 mendatang, sekolah dan universitas mulai dapat melakukan pembelajaran tatap muka.

Kebijakan itupun diserahkan kepada kepala daerah untuk menentukan di daerahnya dapat dilakukan belajar tatap muka maupun tidak.

Beberapa syarat harus dipenuhi daerah bila hendak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Selain mempertimbangkan kasus yang terjadi di daerah, sekolah juga wajib menyiapkan fasilitas kesehatan, serta melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat.

Kebijakan itupun direspon baik oleh Gubernur Kaltim, Isran Noor. Agar tidak salah langkah menyiapkan fasilitas dan kebijakan daerah, katanya, pihaknya menunggu petunjuk teknis dari pusat.

“Kami lagi menunggu petunjuk-petunjuknya dari pemerintah pusat, bagaimana mekanismenya pembelajaran tatap muka,” kata Isran, Kamis (3/12/2020).

Meski penentuan pembelajaran tatap muka diserahkan oleh pusat ke daerah, Isran mengaku tidak ingin salah langkah. Untuk itu, pihaknya masih menunggu petunjuk teknis dari kementerian.

“Betul diserankan ke kami, tapi petunjuk teknisnya belum, apa fasilitas yang harus disiapkan, misalnya tempat cuci tangan, mengatur jarak tempat duduk, dan lain-lain,” jelasnya.

Menurutnya, meski Januari sekolah diperkenankan melakukan belajar tatap muka dengan semua fasilitas dipenuhi, proses tersebut masih menjadi pilihan orang tua. Mereka dipersilakan memilih, apakah anaknya belajar di sekolah, atau mengikuti pembelajaran lewat virtual.  Kedua proses pembelajaran ini akan tetap dijalankan.

“Sekarang kami mulai melakukan koordinasi ke pihak terkait, ke pemerintah kabupaten/kota, mengenai rencana belajar tatap muka. Semua lagi dipersiapkan mereka,” pungkasnya.

Samarinda Siap-siap

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Asli Nuryadin menuturkan, pendataan pernyataan orang tua tentang kegiatan belajar mengajar tatap muka sedang berjalan.

Meski sekolah dibuka, belajar via daring juga masih menjadi alternatif selanjutnya. Bagi wali murid yang masih khawatir dengan tatap muka dan tidak mengizinkan anaknya ke sekolah, maka anaknya bisa menggunakan pembelajaran dalam jaringan (daring).

Baca Juga:  Berjuang Selama 12 Hari untuk Sembuh dari Covid-19, Bupati Berau Tutup Usia

Untuk skemanya, nanti setiap ruang kelas hanya diisi 18 murid, atau setengah dari jumlah murid yang ada. Sisanya akan melaksanakan belajar secara bergantian. Seluruh teknis jadwal pembelajaran nantinya akan diserahkan ke sekolah masing-masing.

“Kalau hari ini kelas A turun, besoknya kelas B. Bisa juga turunnya tiga hari berturut-turut atau bisa selang-seling. Bagusnya sih selang-seling,” kata Asli.

Sedangkan para murid yang tidak dijadwalkan turun ke sekolah bisa melakukan belajar dari rumah secara daring. Penggunaan aplikasi untuk belajar daring juga masih menggunakan aplikasi Samarinda Smart Edu (SSE).

“Jadi yang di rumah itu sudah dikasih tugas dan bisa menyelesaikan di rumah. Belajarnya juga lewat daring saja. Bisa pakai aplikasi yang disediakan atau bisa pakai Zoom, Google Meet atau lainnya,” terangnya.

Bukan hanya untuk menerapkan protokol kesehatan saja. Kapasitas kelas yang hanya diisi setengah dari jumlah siswa itu juga untuk mengakomodir ruang kelas yang terbatas.

“Rumusnya kalau semua tatap muka, kelas itu harus ditambah 100 persen, dua kali lipat. Gurunya juga begitu harus nambah. Itu kan enggak mungkin,” imbuh Asli.

Asli menambahkan, jam setiap pelajaran juga rencananya akan dipangkas. Dari 45 menit, menjadi 20 menit. Hal itu untuk bisa meringankan beban tenaga pengajar yang harus mengisi dua kelas secara bergantian.

“Jadi tetap sama saja mengajarnya. Karena kalau dikali dua, jam mengejarnya tetap juga, hanya muridnya yang bergantian. Teratasi juga semua,” tambahnya.

Disinggung soal beberapa sekolah yang masih menumpang di gedung sekolah lain, Asli menjelaskan hal itu tetap tidak mengganggu belajar tatap muka.

Perbedaannya, hanya pada waktu pembelajaran. Sekolah yang menumpang, akan belajar pada siang hari.

Baca Juga:  APBD Kaltim 2021 Bakal Segera Diketok, Anggaran Penanganan Covid-19 Masih Difasilitasi

“Sama aja, mereka tetap jalan. Cuma turunnya siang. Pagi SD, siang SMP. Fasilitas pendidikan kita bisa saja jalan. Enggak ada masalah, insya Allah guru bisa menyesuaikan,” tukasnya. (***)

Reporter: Satria Mega Dirgantara

Editor: Prananda Dwi Indra Purnama

Share :

Baca Juga

News

Kasus Pernikahan Anak di Kaltim Masih Tinggi, Safaruddin: Masa Depan Anak Tak Boleh Dikorbankan

News

Dilarang Berkunjung ke Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, Ada Apa Ya?

News

Perwali Protokol Kesehatan Diterapkan, Berlakukan Sanksi di Samarinda

News

APBD Kaltim 2021 Bakal Segera Diketok, Anggaran Penanganan Covid-19 Masih Difasilitasi

News

Terkait Temuan Layanan Rapid Test Antigen dengan Alat Bekas, Politisi PDI Perjuangan: Polda Kaltim Harus Lakukan Langkah Preventif

News

Angka Positif Covid-19 di Balikpapan Melonjak, Kasus Riwayat OTG Menjadi yang Terbanyak

News

Kluster Perusahaan Masih Mendominasi di Balikpapan, Pemerintah Bentuk Satgas Terpadu

News

Ada Dugaan Warga Binaan Terlibat Narkoba, Kalapas Akui Belum Terima Laporan