Home / News

Friday, 28 May 2021 - 11:59 WIB

Kasus Pernikahan Anak di Kaltim Masih Tinggi, Safaruddin: Masa Depan Anak Tak Boleh Dikorbankan

Safaruddin bermain dengan salah seorang anak. (Pudink/Wayout.id)

Safaruddin bermain dengan salah seorang anak. (Pudink/Wayout.id)

WAYOUT, BALIKPAPAN – Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kaltim, kasus pernikahan yang melibatkan anak di bawah umur cukup tinggi. Pada tahun 2020 tercatat 1.159 kasus, dengan rincian 254 anak laki-laki dan 905 anak perempuan.

Hal ini dianggap memicu terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal itu terbukti dengan hasil data Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim yang menyebut bahwa per 1 Mei 2021, terdapat 120 laporan KDRT.

Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Drs H Safaruddin mengungkapkan, peran orang tua dalam menekan angka pernikahan anak di bawah umur sangat besar. Pasalnya, hal ini berkaitan erat dengan masa depan anak.

“Tidak bisa dimungkiri bahwa orang tua berperan penting dalam menekan angka pernikahan anak di bawah umur. Meskipun terhimpit faktor ekonomi, masa depan anak tidak boleh dikorbankan,” kata Ketua DPD PDI Perjuangan Kaltim itu.

Di samping faktor ekonomi, lanjut Safaruddin, pendampingan orang tua dalam aktivitas dan pergaulan anak juga sangat penting. Pasalnya, risiko lain yang harus dihadapi anak selain KDRT adalah terputusnya akses pendidikan, terhambatnya pengembangan diri, dan berdampak kesehatan.

“Pemerintah, masyarakat, dan orang tua harus bersinergi dalam mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur. Karena masa depan anak berkaitan erat dengan hak asasi manusia,” kata anggota Komisi III DPR RI yang membidangi persoalan hukum, keamanan, dan hak asasi manusia (HAM) itu.

Diberitakan sebelumnya, DKP3A Kaltim menyebut jika beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya perkawinan anak di bawah umur antara lain faktor sosial budaya, ekonomi, pendidikan, agama, sulit mendapatkan pekerjaan, media massa, pandangan dan kepercayaan, serta orang tua.

Perkawinan anak tersebut rentan terjadinya KDRT, berdampak buruk pada kesehatan, terputusnya akses pendidikan, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) karena aspek pengembangan diri menjadi terhambat, serta meningkatkan risiko terjadinya perceraian dan penelantaran. (***)

Baca Juga:  Persentase Testing Tinggi, Kaltim Masuk Daerah Terapkan Standar WHO di Penanganan Covid-19

Reporter: Bima Putra Perkasa

Editor: Prananda Dwi Indra Purnama

Share :

Baca Juga

News

Pasien Covid-19 yang Sembuh Bertambah, Samarinda dan Kaltim Kini Masuk Zona Risiko Sedang

News

Warga Binaan Lapas Klas IIA Samarinda Ditemukan Tak Bernyawa, Penyebabnya Masih Diselidiki

News

Dinas Kesehatan Samarinda Buka Pendaftaran untuk Vaksinasi, Belum Ada Kejelasan soal Jatah Vaksin

News

Zairin Zain Dikabarkan Positif Covid-19, Begini Respon Dinas Kesehatan Samarinda

News

Lebaran di Tengah Pandemi, Safaruddin: Kita Rayakan Kemenangan dengan Mematuhi Protokol Kesehatan

News

Vaksinasi Covid-19 di Balikpapan Segera Dilakukan, Dijadwalkan Bulan Februari Mendatang

News

Usai Libur Panjang di Balikpapan, Tak Banyak Masyarakat yang Mengikuti Rapid Test Gratis di Puskesmas

News

Seleksi JPTP Kaltim Resmi Diumumkan, Ada Lima Nama Pejabat dari Kutim yang Lolos Tiga Besar